Monday, January 03, 2005

Oh, Aceh...!

Oh, Aceh…!Berhari-hari saya menangis tanpa dapat saya tahan melihat penderitaanmu. Bencana ini begitu dahsyat, begitu singkat tapi meninggalkan korban yang begitu besar. Rasanya belum pernah saya merasa begitu pilu melihat nasib dan penderitaan yang begitu besar seperti yang kau alami ini.
Dalam sujudku yang berlimbah airmata aku bahkan tak mampu mengucapkan kata-kata atau doa. Justru protes yang terlontas dalam hatiku. “Ya, Allah! Aku tahu bahwa Engkau tak mungkin salah dengan takdirMu. Karena Engkaulah Sang Maha Benar. Yang tak pernah salah dalam menetapkan sesuatu, meski kami tak mungkin paham dengan semua tindakanMu.
Ya, Allah! Apa gerangan kasih yang kau sembunyikan dibalik musibahMu ini? Berilah kami petunjukMu agar kami paham makna dari semua derita yang kau timpakan pada bangsa Aceh, saudara kami ini, ya Allah!. Kurang besarkah penderitaan mereka selama ini, ya Allah? Bukankah bangsa Aceh berjuang tanpa henti selama tiga puluh tahun melawan penjajah bangsa Belanda sebelum akhirnya bergabung dengan republik ini, ya Allah? Tigapuluh tahun berperang tanpa henti dengan segala penderitaannya, ya Allah!
Dan ketika mereka bergabung dengan kami mereka juga tak pernah menikmati nikmat dan berkah kemerdekaan seperti saudara-saudara lainnya yang sebangsa dan setanah air. Kali ini mereka diperangi oleh pemerintahnya sendiri yang tidak suka dengan cara mereka mengekspresikan diri. DOM adalah balasan atas protes mereka yang tak mampu berdiplomasi macam saudara-saudaranya yang lain. Berpuluh tahun lagi mereka harus menderita karena pemberontakan yang tak perlu terjadi. Berpuluh tahun mereka menderita karena diperlakukan sebagai musuh sembari disedot sumber daya alamnya. Perang seolah-olah telah menjadi takdirnya tanpa henti. Derita demi derita seolah tak henti-hentinya Kau timpakan pada bangsa Aceh. Dimanakah kasihMu bagi mereka ya, Allah? Oh…Aceh! Sungguh malang nasibmu.
Tapi hari ini, ketika telah lelah aku bertanya kepada Tuhan, tiba-tiba seolah aku mendengar Tuhan berkata-kata kepadaku,: “KasihKu pada Aceh melebihi kasihKu pada yang lain. Pandanglah kesekelilingmu dan akan engkau temui kasihKu pada Aceh memenuhi setiap tempat di muka bumi ini.”
Dan ajaib! Tiba-tiba saya melihat kebenaran tersebut. Seluruh penjuru dunia tiba-tiba memalingkan matanya ke Aceh dan turut berduka dengannya. Seluruh dunia tiba-tiba menghentikan kegiatannya karena iba melihat penderitaan Aceh. Aceh!...Aceh..! Aceh…! Tiba-tiba ia sekarang menjadi begitu penting setelah sekian lama tidak pernah dilihat dengan sebelah mata. Aceh tiba-tiba menjadi tumpuan kasih sayang siapapun yang iba padanya.
Tiba-tiba saya melihat betapa Tuhan telah mengubah segalanya dalam sekejap. Tak satupun daerah di Indonesia di Indonesia yang tidak turut berduka dengannya. Tiba-tiba Aceh menjadi saudara yang paling patut dikasihi dan disayangi setelah sekian lama kita perangi. Aceh…! Aceh…! Beritahu kami cara terbaik untuk menghibur hatimu! Kami adalah saudara-saudaramu yang selama ini lalai menyayangimu.
Tahukah kau Aceh, bahwa semua orang yang ketemui, kudengar, kulihat, turut merasakan penderitaanmu. Mahasiswa, pengusaha, artis, pelawak, walikota, sopir taksi, politisi, tentara, polisi, semua…. ya, semua turut bersedih dengan penderitaanmu. Semua orang di semua tempat ingin menumpahkan kasih dan sayangnya padamu. Belum pernah saya melihat ada bangsa yang begitu dikasihi seperti engkau saat ini, Aceh! Bahkan seorang tukang sapu jalanan di Balikpapan dengan tanpa ragu merogoh sakunya dan mengeluarkan semua uang yang ada disakunya ketika para mahasiswa secara spontan turun ke jalan untuk mengumpulkan derma dari masyarakat yang lalu lalang. Ia mungkin tidak sadar bahwa ia memerlukan uang tersebut untuk ongkos pulangnya nanti. Bahkan aku baca seorang anak berumur 10 tahun di mancanegara memecah celengannya dan menyumbangkan isinya yang hanya 10 dolar sambil berkata,:”Maybe they really need the money.” Ia bahkan tidak tahu dimana Aceh itu. Ia hanya tahu bahwa ada bangsa yang ditimpa bencana yang begitu dahsyat dan memerlukan bantuan. Dan hatinya jatuh mendengar penderitaanmu.
George Bush yang pongah itupun tak tahan untuk tidak melipatgandakan dana bantuan untukmu sampai sepuluh kali lipat. Ya, sepuluh kali lipat! Bahkan kepada bangsa Irak dan Afganistan yang ia sakiti ia tak begitu dermawan.
Betapa ajaibnya kerja Tuhan! Aceh yang selama ini diperangi berpuluh-puluh tahun tanpa seorangpun tahu bagaimana cara mengasihinya tiba-tiba menjadi bangsa yang paling dikasihi dimuka bumi ini. Semua ingin merengkuhnya, semua ingin memeluknya, semua ingin menghiburnya, semua ingin memberikan hartanya baginya, semua ingin mengulurkan tangannya untuk menolongnya, semua ingin menumpahkan airmatanya untuknya, semua ingin berbagi, semua ingin menyayanginya. Semua untuk Aceh yang selama ini tidak pernah kita perdulikan.
Oh…Aceh! Sungguh besar kasih sayang Tuhan padamu. Sesungguhnya mereka yang menjadi korban tidaklah sia-sia. Bukankah Rasulullah pernah bersabda bahwa umatnya yang mati tenggelam adalah mati syahid? Dan engkau memperoleh kehormatan tersebut.
Oh….Aceh, saudaraku! Bangkitlah dari penderitaanmu dan lihatlah sekelilingmu. Seluruh dunia telah menitipkan hatinya bagimu. Kau adalah kekasih bagi seluruh dunia kini. Kemanapun engkau berpaling maka disitu kau akan temukan kasih sayang sesamamu.
Oh… Aceh, saudaraku! Mulai hari ini mari kita mulai hidup baru yang hanya dipenuhi oleh kasih dan sayang diantara semua bangsa kepadamu. Cukup sudah penderitaanmu selama ini diganti oleh kasih dan rahmat Tuhan yang tak terhingga untukmu.
Lihatlah, betapa semua orang berusaha untuk merebut hatimu, mencari simpatimu, mencoba menjadi saudaramu. Lihatlah betapa tentara yang selama ini berlaku garang telah berubah menjadi dewa penolongmu. Lihatlah betapa pemerintah yang selama ini menyia-nyiakanmu sekarang berusaha untuk melimpahimu dengan segala kebutuhanmu.
Lihatlah, betapa propinsi, kabupaten dan kota lain yang selama ini tidak perduli dengan keadaanmu kini berusaha menjadi saudara terbaikmu. Oh..Aceh! Sungguh besar kasih Allah padamu.
Balikpapan, 3/1/05

0 Comments:

Post a Comment

<< Home